Lihat saja, di setiap tempat, semakin banyak orang, di luar kaum perempuan yang menggosip ini itu. Bahkan mereka sampai sering lupa waktu untuk itu. Semua bahan gosip diramu dengan demikian menarik sehingga semakin banyak follower gosip yang kemudian tanpa jelas juntrungannya ikut-ikutan membicarakan hal yang tidak dikuasai.
Tindakan para follower gosip ini hanya meneruskan apa yang dikaji peserta gosip dan meneruskannya pada penggemar gosip berikutnya. Mereka semacam mediator penyampai ke penggosip berikutnya. Perkembangannya cukup pesat sampai akhirnya, asal usul gosip pun semakin tak jelas dengan semakin banyaknya follower gosip.
FOLLOWER
Yang serunya, follower gosip ini seperti orang yang terkena hipnotis dan menjadi tak berdaya, bahkan hanya untuk sekedar bertanya tentang asal muasal gosip itu muncul. Akibatnya, ketika disadarkan, darimana mereka mendapatkan informasi yang menjadi bahan gosip itu, semua hanya bisa menjawab tidak tahu dan begitulah yang kami dengar. Mereka terpedaya.
Demikianlah, gosip memang muncul begitu saja. Tertiup angin dan mengembang hingga kemana-mana. Yang serunya, seringkali justru bahan gosip ditambah-tambah oleh sang follower gosip sehingga kedengaran semakin sip.
Tanpa disadari, banyak dari mereka yang menjadi follower gosip ini justru mempermalukan dirinya sendiri. Sebab mereka membuat statemen yang tidak tepat. Apalagi jika gosip yang dimaksud sudah jauh-jauh hari dibantah dan faktanya juga tidak ada, tetapi tetap saja sang follower mengoceh tak jelas arah.
Di dunia yang serba demokrasi ini, keinginan untuk tampil bicara atau bahkan muncul dengan poster segede-gede gajah (kata rekan saya yang dari Jakarta), menjadi sah-sah saja. Karenanya, kadang kita menjadi lupa diri dengan kebebasan yang kebablasan itu.
Akibatnya, kesempatan meneruskan gosip menjadi simbol keeksisan kita di mata publik. Karenanya, kita bela-belain (istilah rekan tadi), untuk terus menjadi salah seorang follower gosip sejati.
Mana lagi di jaman sekarang cukup banyak wadah untuk menyampaikan materi gosip yang ingin dihembuskan. Perkembangan teknologi juga memungkinkannya menjadi lebih cepat dan lebih murah.
RAJA BATAK
Seperti halnya gosip terbaru yang muncul belakangan ini, salah satunya soal gelar Raja Batak. Tiba-tiba saja, gosip ini bertiup kencang mengiringi rencana kehadiran Presiden RI dalam acara Peresmian Museum Batak di Desa Pagar Batu, Balige, Sumatera Utara.
Gosip ini malah dipola dalam bentuk aksi demo di Jakarta dan Medan. Dari sinilah kemudian, followernya bergerak menyebarkan gosip hingga muncul di media massa. Dalam tempo waktu tidak berapa lama, benak masyarakat sudah dipenuhi informasi bahwa Sang Presiden akan diberi Gelar Raja Batak. Komentarpun banyak yang meluncur dari ujung lidah, tanpa sempat lebih dulu mengecek kebenarannya.
Padahal, si empunya hajatan Peresmian Museum Batak dari awal dengan tegas menyatakan hal tersebut tidak pernah ada dalam rencana mereka. Bukan memberikan gelar Raja Batak, tapi yang diberikan adalah gelar kehormatan lain yang umum dianugerahkan sebagai tanda hormat dan penghargaan pada seorang tokoh.
Juru bicara Presiden juga ikut meluruskan dan membantah hal pemberian gelar Raja Batak tersebut. Namun, hal itu bukannya menyurutkan langkah dan menenangkan lidah pihak-pihak yang tiba-tiba merasa sangat bertanggung jawab terhadap kemaslahatan suku yang terkenal sportif itu.
Setelah penyerahan gelar Raja Batak benar-benar tidak dilaksanakan, ternyata gosip itu terus saja berlanjut. Sehingga, meski gosip itu tidak terbukti, masih saja ada yang angkat bicara, memberi komentar yang tidak perlu.
PERALAT Apakah ini yang disebut politik? Tetapi bukankah dalam politik gosip dibuat sedemikian rupa dengan maksud tertentu guna mendapatkan dukungan? Lalu, bagaimana kredibilitas kita, yang masih saja membicarakan hal yang jelas-jelas tidak terjadi dan ngotot mempersoalkannya? Tidakkah kita justru ditinggal pergi orang-orang yang kemudian sadar telah kita peralat?
Itu baru satu contoh kasus. Ada beberapa gosip lain yang juga dilakukan para penyebar gosip untuk tujuan tertentu. Terlepas dari apa tujuannya, yang jelas para follower menjadi terjebak dengan gosip yang beredar. Akibatnya, jadilah kita bulan-bulanan karena ikut diperalat sebagai follower gosip di mata publik.
Ya, urusan peralat memperalat orang menjadi sesuatu yang ngetrend saat ini. Mudahnya memprovokasi dengan iming-iming tertentu membuat jalan sang provokator semakin mulus dan lancar. Tetapi follower yang bijak tentu tidak mau hanya diperalat.
DUNIA GOSIP
Ini harus diantisipasi. Kita harus menyadari saat ini kita sudah hidup di dunia gosip. Dimana informasi menjadi demikian terbuka dan kebebasan menyampaikan pendapat membuat sebuah informasi bisa meluncur tanpa kendali.
Karena itu, gosip menjadi semakin berkembang. Adalah penting upaya mencegah untuk tidak terjebak menjadi follower gosip. Karena hanya akan membuat diri kita sebagai orang yang diperalat. Padahal, jika kita mau memberi sedikit saja waktu untuk memastikan kondisi yang sebenarnya, mungkin kita tidak perlu terjebak di sana.
Sebab itu, sebelum bicara, bolehlahbasahi dulu bibir kita. Maknanya, beri waktu untuk otak kita berpikir sebelum lidah mulai meluncurkan kata demi kata. Semoga.(tian43a)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar